Sebuah Dunia Yang lebih Baik

KH.A.Hasyim Muzadi


Belakangan ini marak bermunculan ”bayi-bayi agama baru” yang menyempal dari agama ”induknya”. Kebetulan yang banyak muncul di media massa, adalah penyempalan dari mereka yang sebelumnya mengaku bersumpah setia kepada Islam. Karena aneka macam alasan, maka lahirlah bayi-bayi itu dengan nama antara lain, Salamullah, Wetu Tellu, ajaran salat versi Yusman Roy, Alquran Suci, Jamaah Udeng Ireng serta beberapa lainnya dengan nama yang aneh-aneh. Yang paling mutakhir adalah testimoni Abdussalam alias Ahmad Mushaddeq yang mengaku sebagai seorang nabi dan rasul sekaligus. Setelah sekian hari, demikian pengakuan yang bersangkutan, melakukan tapabrata di gunung Bunder, Bogor, turunlah wahyu versi keyakinannya. Ia meproklamirkan diri telah mendapatkan ”amar” dari Tuhan dan diberi tanggungjawab menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam di Indonesia.

Seruan mantan pelatih fisik bulu tangkis ini, luar biasa sukses, karena tak sedikit umat yang terbuai ajakannya. Kabarnya, puluhan ribu orang bertekuk keyakinan di hadapan ”sang rasul”. Beberapa bahkan ada yang rela menukar akidahnya dengan ajaran baru. Maka, setelah sekian waktu berlalu dengan damai sentosa, dan dengan keberanian yang luar biasa pula, Mushaddeq melakukan pembaiatan atas para pendukungnya, secara terbuka, terang-terangan, bahkan sangat demonstratif di sebuah hotel di Jakarta. Diliput puluhan media massa pula. Dengan busana yang khas para profesional, celana gelap, baju lengkap dengan jas dan dasinya, Mushaddeq menerima ”takluknya” beberapa orang di hadapannya. Seperti tanpa daya untuk mempertanyakan, mereka menyatakan persaksian dengan mengubah syahadat yang biasa dilakukan umat Islam. Syahadatnya menjelaskan; Mushaddeq sebagai Almasih Almaw’ud. Almasih yang dinanti-nanti kehadirannya.

Berbeda dengan Islam yang dibawa Baginda Rasul Muhammad SAW, Mushaddeq memberi kemudahan kepada pengikutnya untuk tidak salat, tidak puasa, tidak berhaji dan tidak mengeluarkan zakat. Kilahnya, mereka tengah hidup di periode Makkah, periode yang beberapa rukun Islam belum disyari’atkan. Akunya, itu semua baru akan dilakukan setelah hijrah. Hijrah entah kapan. Hijrah entah ke mana. Karena tak lama setelah secara blow-up diberitakan di semua media, cetak dan elektronik, Mushaddeq menyatakan menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. Itu pun hampir terlambat, karena banyak pengikutnya, yang di luar harapan banyak penganut agama lama, tak pantas menerima perlakuan keterlaluan, karena sejatinya mereka bisa diajak dan diantar ”pulang” ke rumah lama. Seorang rasul menyerah? Seorang nabi bertekuk lutut? Rasanya belum ada dalam sejarah seorang rasul menyerahkan diri.

Pada waktu nyaris bersamaan, seseorang yang mengaku sebagai Malaikat Jibril justru meninggalkan ”ruang tahanan” aparat hukum; aparat yang notabene berasal dari kalangan para manusia juga. Setelah hampir dua tahun mendekam, ia bebas dengan air muka penuh iba dan menangis. Aparat hukum berjanji akan terus memata-matainya; apakah ia masih setia meluaskan ajarannya itu setelah bebas dari bui. Kalau untuk kedua kalinya dinilai menista agama tertentu, maka boleh jadi ia akan berhadapan kembali dengan hukum positif negeri ini. Ia mendirikan madzhab Salamullah dan mengajarkan tuntunan tertentu kepada anak buahnya. Menurut keyakinan Islam, minimal melalui sikap sahabat Nabi, Abubakar Assshiddiq, wahyu telah terputus setelah wafatnya Baginda Rasul Muhammad. Tetapi orang nomor satu di lingkungan Salamullah ini masih mendakwakan turunnya wahyu hingga lahirlah Indonesia merdeka, ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Sebuah momentum tetapi melahirkan dua paradoks; satu menyerah dan satunya lagi menangis. Dua sifat sangat manusia. Ada yang secara berkelakar mengatakan, kalau ingin membuktikan kebenaran pengakuan Mushaddeq maka silakan bertanya kepada Jibril yang baru meninggalkan ruang tahanan itu. Sesuatu yang sarkartis. Beberapa analis melihat bahwa aparat negara, para penghulu agama, serta beberapa kelompok lainnya telah menunjukkan perlakuan yang keterlaluan terhadap para pengikut ”agama baru” ini. Beberapa di antaranya mempersalahkan kondisi yang menyebabkan mereka bisa lahir. Mereka bilang situasi yang ada telah menyebabkan semua agama baru itu bisa lahir dengan leluasa. Malah diangkat opini soal menghukum sebuah keyakinan dianggap bukanlah kewenangan manusia. Maka dikutiplah beberapa penggal ayat suci untuk menguatkan analisisnya. Hukuman opini dijatuhkan kepada aparat negara, penghulu agama serta mereka yang selama ini dianggap umat agama tradisionalis yang antinalar. Sedang terhadap penganut ”agama baru” ini, mereka tak menjanjikan apa-apa tentang kebenaran ajaran yang dianutnya kecuali sebuah kebebasan yang sumir.

Bagaimana ini semua bisa terjadi? Sebenarnya kalau ”agama baru” ini tidak mengambil sikap merongrong terhadap ajaran yang telah ada, persoalannya akan menjadi lain. Memang, sepanjang bumi ini masih menjadi hunian anak manusia, maka beragam persoalan akan terus bermunculan, termasuk fenomena ”agama baru”. Sebagai umat Islam, tentu kita memiliki keyakinan yang tak bisa ditawar, bahwa Islam dengan segala tuntunannya sudah final sebagai sebuah akidah. Dan kita sudah bersumpah setia untuk menjaga keyakinan kita. Memang benar sebuah diktum yang mengatakan bahwa tidak mungkin aturan yang notabene profan buatan manusia berpretensi melindungi ajaran agama yang transendental dan datang dari Tuhan. Tetapi pranata sosial dan keagamaan tak bisa diabaikan keberadaannya untuk menjaga harmoni umat manusia. Tampaknya semua agama memiliki pranatanya sendiri-sendiri untuk membantu lahirnya harmoni di kalangan umatnya. Belum ada dalam sejarah, umat beragama hidup tanpa pranata sosial yang profan dan dibuat oleh manusia.

Nah! Bagaimana kalau seorang di antara anggota keluarga kita menghilang? Tak jelas di mana keberadaan anak kita? Menghilang karena ajaran tertentu. Menganggap orang tuanya kafir? Menjauhi rumah tempat dirinya dilahirkan karena menganggapnya najis? Memutus hubungan kekerabatan dengan semua anggota keluarganya. Tanpa merujuk kepada agama pun, kejadian semacam ini akan meluluhlantakkan harmoni di tengah sebuah keluarga. Tanpa diperintah oleh agama apa pun, kita akan mencari anak kita yang hilang. Menjadi aneh kalau ada orang tua yang bisa tidur nyenyak dan membiarkan anaknya minggat dari rumah tanpa alasan. Jangankan Tuhan yang memberikan amanah anak kepada kita, aparat hukum pun akan menanyakan kita sebab kehilangan anak. Kita harus bertanggung jawab. Apalagi kalau sampai anak kita memendam sebuah keyakinan yang aneh dengan menyebut kita sebagai bukan dari kalangannya sehingga pantas ditinggalkan untuk selama-lamanya. Duh Gusti! Kembalikan mereka yang terlalu jauh melangkah. Karuniakan hidayah-Mu. Jadikan kami, orang tua yang mampu melindungi keturunan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanah-Mu. WalLaahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: